Di banyak startup tahap awal, laporan keuangan sering diposisikan sebagai “rekap untuk tahu untung-rugi”. Itu wajar-selama kebutuhan bisnis masih sederhana. Namun begitu bisnis mulai berhadapan dengan kredit bank, due diligence investor, atau target audit, laporan keuangan berubah fungsi: bukan sekadar catatan, melainkan “bahasa formal” yang dipakai pihak eksternal untuk menilai ketertiban, risiko, dan kualitas pengelolaan.
Di titik ini, pemilihan standar akuntansi (SAK EMKM atau SAK Entitas Privat/SAK EP) menjadi keputusan strategis. Bukan karena ingin terlihat rapi, tetapi karena standar memengaruhi konsistensi pencatatan, kelengkapan penyajian, serta seberapa mudah laporan dipahami dan diuji.
SAK EMKM dirancang untuk entitas mikro, kecil, dan menengah-umumnya cocok saat:
- Transaksi relatif sederhana.
- Tim finance masih ramping.
- Laporan dipakai terutama untuk kebutuhan internal dan kepatuhan dasar.
Rujukan resminya dapat dilihat pada halaman IAI mengenai SAK EMKM.
SAK Entitas Privat (SAK EP) digunakan oleh entitas privat (non-publik) dengan kebutuhan pelaporan yang cenderung lebih komprehensif-umumnya relevan saat:
- Mulai ada transaksi yang lebih beragam dan bertingkat.
- Ada kebutuhan pembanding dan konsistensi laporan untuk pihak eksternal.
- Kesiapan audit dan proses due diligence mulai menjadi agenda.
IAI juga menyediakan rujukan resmi mengenai SAK EP.
Intinya: SAK EMKM sering menjadi “starting point” yang sehat. SAK EP adalah “naik kelas” saat bisnis membutuhkan pelaporan yang lebih kuat untuk menghadapi pemeriksaan, pembiayaan, dan pertumbuhan yang lebih kompleks.
https: /https://finfloo.com/pph-23-jasa-digital-saas-agency-cloud/
Risiko Salah Pilih Standar: Laporan Ada, Tapi Sulit Dipercaya
Di pola yang sering terlihat pada startup non-finance, masalah bukan karena tidak ada laporan, melainkan karena laporan tidak cukup meyakinkan untuk dipakai mengambil keputusan kredit/investasi. Beberapa risiko umum jika standar tidak selaras dengan kebutuhan bisnis:
1) Bankability tersendat karena bukti dan struktur laporan tidak menjawab pertanyaan bank
Bank umumnya tidak hanya membaca angka, tetapi juga melihat keteraturan historis, konsistensi pencatatan, serta jejak kewajiban melalui kanal seperti SLIK OJK. Ketika laporan keuangan tidak rapi atau tidak konsisten, diskusi kredit bisa bergeser dari rencana bisnis ke pembuktian dasar.
2) Audit readiness rendah karena dokumentasi transaksi tidak siap diuji
Banyak temuan audit (atau due diligence) berasal dari hal yang tampak sederhana: invoice hilang, kontrak tidak sinkron dengan pengakuan pendapatan/biaya, atau pajak tidak rapi. Jika proses dokumentasi pajak seperti e-Faktur dan e-Bupot Unifikasi tidak tertata, rekonsiliasi menjadi berat dan memakan waktu.
3) Rework mahal saat “mendadak butuh” laporan standar yang lebih kuat
Ketika investor atau bank meminta paket laporan dan supporting dokumen tertentu, tim sering terpaksa melakukan pembenahan kilat. Biayanya bukan hanya uang, tetapi juga fokus manajemen yang tersedot dari operasi.
4) Due diligence melambat karena legalitas dan dokumen korporasi tercecer
Selain laporan keuangan, dokumen legal seperti data badan hukum dan perubahan akta biasanya dicek. Ketertiban di kanal seperti AHU Online membantu mempercepat proses administrasi dan verifikasi.
Dampak Utama ke Laporan: Apa yang Biasanya Berubah Saat Naik dari EMKM ke EP
Perpindahan standar jarang terasa seperti “ganti format laporan” semata. Yang berubah biasanya adalah kedalaman kebijakan akuntansi dan disiplin penyajian. Tanpa masuk ke istilah audit yang berat, berikut area yang sering terdampak:
- Kelengkapan laporan & catatan
Laporan tidak hanya laba rugi, tapi juga neraca, arus kas, dan catatan yang menjelaskan kebijakan serta transaksi penting. - Pengakuan pendapatan & biaya
Pendapatan dicatat sesuai substansi transaksi, berbasis kontrak atau progres, dengan kebijakan yang jelas dan konsisten. - Kualitas piutang dan utang
Aging jelas, penagihan terdokumentasi, dan konsentrasi pelanggan terpantau untuk mendukung penilaian kelayakan usaha. - Aset tetap vs biaya
Pembelian besar diklasifikasi tepat antara aset dan beban agar laba tidak bias akibat salah perlakuan akuntansi. - Pajak sebagai indikator kredibilitas
Pembukuan selaras dengan e-Filing, e-Faktur, dan e-Bupot agar laporan siap diuji dan dipercaya pihak eksternal.
Checklist Praktis: Bankability & Audit Readiness (Bisa Dipakai untuk Closing Bulanan)
Checklist berikut dirancang untuk tim finance yang ingin merapikan proses closing dan dokumentasi-baik masih memakai SAK EMKM maupun bersiap menuju SAK EP.
A. Struktur laporan (output yang rapi dan konsisten)
- Neraca, laba rugi, dan arus kas disusun konsisten antar periode.
- Ada penjelasan singkat kebijakan penting (mis. pengakuan pendapatan, perlakuan aset/biaya).
- Rekonsiliasi saldo kas/bank per akhir bulan tersedia (bank statement vs buku).
B. Kualitas angka (mudah diuji, mudah dijelaskan)
- Daftar piutang + aging (0-30/31-60/lebih) dan catatan pelanggan bermasalah.
- Daftar utang + aging dan komitmen pembayaran yang sedang berjalan.
- Rekonsiliasi revenue: dari invoice/kontrak ke angka di laporan.
- Biaya besar/bulat (material) memiliki penjelasan dan bukti.
C. Bukti transaksi (supporting yang biasanya ditanya duluan)
- Invoice penjualan tersimpan rapi dan bernomor urut.
- Kontrak/PO/BAST untuk transaksi utama tersimpan dan mudah diakses.
- Bukti pembayaran (transfer/bank advice) terhubung ke invoice terkait.
D. Pajak (tertib tanpa harus “sempurna dulu”)
- PPN: dokumen dan pelaporan tertaut melalui e-Faktur.
- Bukti potong/pungut tersedia dan dapat ditelusuri via e-Bupot Unifikasi.
- Pelaporan SPT melalui DJP Online (e-Filing) terdokumentasi (bukti lapor, masa pajak, arsip).
E. Bankability & reputasi kredit
- Dokumen legal entitas terbaru siap (akta/perubahan; validasi dapat dicek di AHU Online).
- Kedisiplinan pembayaran kewajiban tercermin rapi; jika sedang proses kredit, pemahaman atas kanal informasi kredit seperti SLIK OJK menjadi relevan.
- Kebijakan internal sederhana tersedia: approval pengeluaran, limit, dan otorisasi bank.
F. Kebiasaan closing (yang membuat audit jadi ringan)
- Jadwal closing bulanan jelas (cut-off, siapa melakukan apa, deadline).
- Folder evidence per bulan/per akun (kas, revenue, payroll, pajak) konsisten.
- Daftar isu akuntansi terbuka (open items) dicatat dan ditutup bertahap.
Panduan Keputusan: Kapan Tetap di SAK EMKM, Kapan Naik ke SAK EP
Berikut kerangka keputusan yang praktis untuk founder non-finance.
Masih cocok bertahan di SAK EMKM jika:
- Transaksi masih relatif sederhana dan mudah ditelusuri.
- Tujuan utama laporan adalah kontrol internal dan kepatuhan dasar.
- Belum ada kebutuhan kuat dari bank/investor untuk paket laporan yang lebih komprehensif.
Mulai perlu mempertimbangkan SAK EP jika pemicunya muncul:
- Kebutuhan pembiayaan: masuk proses kredit yang lebih serius, atau mulai menyiapkan dokumen untuk investor.
- Kompleksitas transaksi meningkat: kontrak bertahap, banyak invoice dengan termin, multi entitas/unit, atau aset yang mulai signifikan.
- Kebutuhan audit/due diligence: target audit untuk keperluan tertentu, atau investor meminta pemeriksaan lebih mendalam.
Langkah transisi yang biasanya paling aman:
1) Rapikan closing bulanan memakai checklist di atas (ini fondasinya).
2) Petakan area yang paling sering menimbulkan pertanyaan (revenue, piutang, pajak, aset).
3) Susun kebijakan akuntansi yang ringkas namun konsisten.
4) Siapkan paket dokumen bankability (legal, pajak, kontrak, rekening) agar proses tidak tersendat.
Pendekatan ini membuat perubahan standar terasa sebagai proses bertahap, bukan proyek besar yang mengganggu operasi.
Banyak bisnis bertumbuh bukan karena langsung “sempurna”, tetapi karena tahu kapan harus menaikkan standar kerja. Pemilihan SAK EMKM atau SAK EP pada dasarnya adalah keputusan tentang kesiapan bisnis menjawab pertanyaan pihak eksternal: apakah angka bisa dipercaya, apakah prosesnya tertib, dan apakah buktinya tersedia.
Jika laporan saat ini masih berfungsi sebagai kompas internal, SAK EMKM bisa tetap relevan. Namun saat bisnis mulai masuk fase pembiayaan dan pemeriksaan yang lebih ketat, pergeseran menuju SAK EP sering menjadi langkah yang memperkuat bankability sekaligus mengurangi rework di belakang hari.

